Komunitas Mahasiswa sastra inggris UIN SGD BDG .

Login

Lupa password?

Gallery


Link Bersangkutan.

free forum

☺ your comment ☺

Kursus Online CBS Bogor

Latest topics

» Perkenalan
Mon Jul 08, 2013 7:54 pm by Hana Ismi Radliyatin

» Berbagi Cerita
Thu Jun 30, 2011 6:23 pm by zakii

» Hi apa kabar
Thu Jun 30, 2011 5:49 pm by Lia

» Spesialis PUISI_PUISI
Thu Mar 10, 2011 10:14 am by yuga anugrah

» PUISI-PUISI metafisik
Wed Mar 09, 2011 9:57 pm by yuga anugrah

» Copi bozz morphology
Sun May 02, 2010 7:14 am by zakii

» Tim Teater akan tampil lagi
Sat Apr 03, 2010 8:46 am by zakii

» Relax community BSI
Sat Apr 03, 2010 8:43 am by zakii

» Vini Vidi Vici
Sat Apr 03, 2010 8:36 am by zakii


    Hisapan Terakhir (cerpen miko)

    Share

    mikoalonso

    Jumlah posting : 35
    Age : 29
    Lokasi : Bandung
    Registration date : 16.04.09

    Hisapan Terakhir (cerpen miko)

    Post by mikoalonso on Tue Apr 28, 2009 7:50 pm

    Oleh Miftahul Khoer

    Toro menyanyikan sebuah lagu milik Peterpan. Jaket jeans kumal bolong-bolong menjadi pakaian kojonya. Rambut gondrong dicat merah dengan gincu murahan. Sebuah gitar penuh stiker menggantung di atas perutnya. Lampu merah menyala. Ia bergegas mendekati sebuah mobil BMW berwarna biru. Mobil yang mulus berplat B 41 KS. Mengkilap.

    mungkinkah bila kubertanya pada bintang-bintang.
    Dan bila kumulai merasa bahasa kesunyian.

    “bagus banget suaranya mas, kamu pantas tuh jadi artis. nih buat kamu.”
    “makasih pak.” Kata Toro sambil mengantongi uang seribu rupiah.

    Lampu hijau menyala, semua kendaraan membunyikan klaksonnya. Sepertinya mereka usai pulang dari tempat kerja masing-masing. Mobil BMW berlari kencang. Toro menyudut keatas trotoar.

    Toro hanyalah seorang anak jalanan yang setiap harinya mangkal di lampu merah jalan perempatan Ahmad Yani, Jakarta. Umurnya sekitar 23. perawakan kurus dengan tato diseluruh badan. Tiga Pierching menempel di kuping kiri kanannya. Pelataran lampu merah menjadi surga bagi Toro dan kawan-kawannya. Setiap hari ia hidup di jalanan. Makan, minum, sampai kadang berkelahi sesama pengamen dan para pengemudi angkot.

    Matahari merayap pelan menyisakan awan gelap menjemput malam. Wajah Toro terlihat kesal. Gitar kesayangannya sekarang digiring di atas pundaknya. Ia berjalan menuju rumahnya. Jam menunjukan pukul enam sore. Sebentar lagi suara azan berkumandang. Toro tak pernah menghiraukannya. Dari jalan menuju rumah, kira-kira satu kilometer.

    “brukkkkk….”

    Suara tendangan Toro membuka pintu. Rumah kumuh ukuran 6x6 meter persegi terbuka dengan cahaya lampu lima watt. Toro masih kesal. Ia melangkah ke dapur. Mencari sesuap nasi untuk mengganjal perut. Sial benar ketika ia mendapati meja reyot tempat nasi itu kosong.

    “Mar… Marni…Marni.”
    “ia bang.”
    “kamu gak masak hah.”
    “lho…hari ini abang kan belum ngasih marni uang.”
    “halah… alasan… kamu kenapa gak pinjem saja sama si Togar.”
    “abang ini gimana, abang kan tau si Togar itu lintah darat.”
    “sial benar hari ini… sudah, belikan abang rokok tiga batang. Nih uangnya”
    “kok uangnya Cuma seribu sih bang.”
    “sudah, pake uang kamu aja dulu besok abang ganti. Jangan lupa kopi sebungkus.” Kata Toro sedikit membentak.

    Marni bergegas membeli rokok ke warung Ua jabrig. Ia tau kalo keinginan abangnya jika tidak segera ditaati, satu tamparan bakal melayang kemukanya. Marni adik satu-satunya Toro. Kedua orang tuanya bercerai ketika sang ibu menangkap basah suaminya sedang bergumul disaung butut dengan seorang pelacur kampung. Marni dan Toro tak mau ikut ayah atau ibunya. Mereka berdua punya prinsip mandiri membangun keutuhan keluarga sebagai adik dan kaka.

    Marni berusia 13. ia punya cita-cita yang tinggi melanjutkan sekolah kejenjang paling atas. Ia ingin memperbaiki keutuhan keluarga yang dulu harmonis. Ia ingin mengembalikan sosok Toro yang dulu sayang dan perhatian padanya. Namun ia menghargai kehidupan Toro dijalanan yang menjadi mata pencaharian mereka berdua. Walaupun dengan mengamen, Marni percaya pekerjaan itu halal. Marni kelas tiga SMP.

    “bang ini kopinya, rokoknya Jarum Cokelat kan?”
    “ia taro aja di meja.”

    Toro membakar rokok. Ia menghisap dalam-dalam dan mengepulkannya seraya mata terpejam. Pipi menjolor kedalam. Ia percaya bahwa merokok menimbulkan banyak penyakit. Namun ia juga percaya merokok bakal membawa sebuah ketenangan batin. Menghilangkan stress. Merendam emosi. Tak terkecuali menelurkan ide-ide brilian. Dan yang paling penting, Inspirasi tiba begitu saja dari satu hisapan rokok.

    Segelas kopi hitam tertuang kental. Buihnya kecokelat-cokelatan. Toro menyedotnya walau masih panas. Rokok tinggal hisapan terahir. Ia menghisapnya lebih dalam dan mengepulkannya lagi. Kali ini ia membuat bulatan asap dari mulutnya. Toro begitu menikmati rokoknya.

    Toro sejenak merenung di atas kursi bambu yang ia buat sendiri kemarin siang. Ia membuka baju dan pindah keluar. Ia berniat mencari angin. Seluruh tatonya telihat. Ia tak peduli tetangga melototinya dengan kebiasaan kesehariannya.

    Rokok kedua ia nyalakan. Ia tetap merenung dan menghayal. Ia sadar prilakunya sudah keterlaluan. Mabuk, berkelahi dan judi. Ia sadar kelakuannya pada Marni sudah diluar batas seorang kakak yang baik.

    Toro teringat keluarganya yang dulu ia rasakan begitu berarti. Mata Toro berkaca-kaca hendak menyucurkan air. Udara malam itu begitu menusuk kulit. Toro tak menghiraukannya. Kopi tinggal setengah gelas lagi. Dan ia benar-benar menyucurkan air mata. Ia menangis.

    “bang pintunya tutup dong udaranya dingin banget.”

    Suara Marni terdengar di dalam kamarnya. Marni tengah membaca novel Jala karya Titis Basino. Marni terpengaruh sekali dengan isi ceritanya. Ia berdoa kelak kakaknya bakal persis mirip Pam, tokoh yang ada di novel itu. Marni menganggap novel itu sangat inspirasional. Marni sangat gemar sekali membaca karya sastra. Sampai ia rela uang jajan pemberian Toro ditabung hanya untuk membeli novel terbaru. Kali ini Toro tak membantah. Ia segera menutup pintu. Ia masih menangis. Tanpa baju.

    Angin berhembus kencang membelah malam. Kopi sudah tak tersisa. Hanya satu batang rokok yang masih utuh. Toro masih tak menghiraukan walau ia menggigil kedinginan. Ia membakar rokok ketiga. Rokok kretek Jarum Cokelat. Rokok yang menurutnya merakyat dan mengerti orang kecil. Bagi dirinya Jarum Cokelat adalah cita rasa yang paling tinggi. Aromanya seperti membius urat syaraf. Bikin ketagihan.

    Jarum jam menunjukan pukul sebelas malam. Marni sudah tidur pulas. Ia belum sempat selesai membaca novelnya. Toro duduk sambil menyosorkan kakinya di kursi luar. Kali ini ia batuk-batuk hebat. Semakin keras. Keras. Dan keras.

    Toro jatuh terkulai. Mulutnya penuh dahak berdarah. Ia berusaha merayap membuka pintu rumah seraya mengetuk pintu kamar Marni. Ia benar-benar tak berdaya. Rupanya efek alkohol sudah meledak di tubuhnya. Ia tak sadar bahwa segelas kopi dilarang diminum berbarengan dengan alkohol yang ia minum tadi siang. Ia berteriak dan mengetuk lebih keras pintu Marni.

    “ya ampun abang kenapa.”
    “tolong kasih pinjam abang selimut Mar. abang kedinginan.”
    “abang…abang harus kerumahsakit sekarang. Abang berdarah bang.”
    “gak usah Mar, abang gak apa apa.”
    “ya ampun abaaaaaaaaaaang!!!.”

    Toro benar-benar tak sadarkan diri. Lumuran darah tumpah di wajah dan tubuhnya. Marni tak kuasa melihat kakaknya. Air matanya keluar deras sambil memegang tubuh penuh tato itu. Wajah toro dibasuhnya dengan air hangat. Marni bingung apa yang harus ia lakukan. Sangat mustahil jika ia membawa Toro kerumahsakit. Marni memapah Toro kekamarnya. Toro masih tak sadarkan diri sampai pagi menjelang. Toro Pinsan.

    Hari ini Marni tak pergi sekolah. Ia lebih memilih mengurus Toro yang sedang sakit. Marni bergegas mengambil gitar. Ia berencana pergi mengamen untuk mencari uang agar bisa mengobati Toro. Marni melangkah menutup pintu rumah. Ia ia berjalan menuju jalanan. Ngamen. Tapi raut mukanya gelisah.

    Lampu merah kembali menyala. Mobil BMW itu berhenti lagi tepat di pinggir trotoar di mana Marni berdiri. Marni tak menyianyiakannya. Ia sambil berdoa agar hari ini dapat uang banyak untuk kesembuhan Toro. Ia menyembunyikan wajah sedihnya. Ia memainkan gitarnya tapi belum sempat menyanyikan sebuah lagu.

    “neng lelaki yang kemarin ngamen di sini mana.” Ujar pengemudi itu.
    “oh… itu abang saya Pak, emang kenapa.” Sahut Marni.
    “sekarang dia di mana kok gak kelihatan, padahal saya suka sama suaranya.”

    Marni diam tertegun. Dia tidak bisa bicara apa-apa. Pikirannya melayang. Tatapannya kosong seolah tanpa tujuan. Ia lupa bahwa dirinya sedang mengamen.

    “lho… kok diam neng.” Seloroh pria itu

    Lampu lalulintas berubah warna. Panas terik menyengat dari pancaran matahari. Marni masih diam. Suara Klakson berbunyi dari berbagai kendaraan. Marni menepi keatas trotoar. Si pria pengemudi BMW merogoh dompetnya, ia memberikan uang sepuluh ribu pada Marni padahal ia belum menyanyikan sebait lagu pun.

    “neng ini… sekalian titip kartu nama saya buat abang kamu. Suruh dia datang kekantor saya jam empat sore ya.” Ujarnya.

    Marni menerima pemberian dari pria itu tanpa mengatakan apapun. Dibacanya kartu nama itu perlahan-lahan.

    Erwin Pamungkas
    Manajer Irama Studio Recording Indonesia
    Jalan Budi Utomo 16 Jakarta

    Marni kaget ketika membaca kartu nama itu. Ia berpikir bahwa pria itu akan mengorbitkan Toro sebagai penyanyi. Marni sadar bahwa kualitas vokal Toro memang layak jadi artis papan atas. Pikiran marni masih melayang. Ia ingat akan novel yang dibacanya semalam. Tentang kisah Pam yang hidup melarat dan berubah jadi orang besar.

    Kini Marni lebih semangat mengamen setelah membaca kartu nama itu. Pikirannya pingin segera pulang kerumah dan memberitakan kabar gembira itu pada Toro. Tapi Marni merasa belum dapat uang banyak untuk dibawa kerumah. Marni terus bernyanyi di setiap lampu merah menyala.

    Waktu terus berjalan. Awan mulai menghitam menjemput sore. Marni mengemas peralatan ngamennya. Wajahnya penuh keringat membasahi tubuh. Ia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya. Ia merasa aneh dengan hari itu. Hatinya bertanya kenapa banyak orang lalu lalang disekitar rumahnya. Perlahan ia mendekati rumahnya. Orang-orang berduyun didepan pintu rumahnya. Hati Marni bertanya-tanya.

    Marni tak menghiraukan orang-orang itu. Ia menyerobot masuk kerumah. Sebuah kain kafan terlentang tepat ditengah rumah. Marni kaku. Ia benar-benar tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Air matanya mendadak jatuh keseluruh wajahnya. Ia membuka kain itu dengan hati-hati. Air matanya lebih deras mengalir membasahi lantai tanah rumah.

    “abaaaaaang…abaaaaang…abaaaaaang…”
    “abang jangan pergi.”

    Setelah satu bulan berlalu wajah marni lebih cerah. Ia melanjutkan kembali membaca novel itu setelah terlupakan dengan kematian Toro. Marni yakin hidupnya akan seperti Pam. Kembali dengan keluarga yang utuh dan harmonis. Marni mulai keranjingan menulis cerita-cerita yang ia alami sehari hari. Sekarang giliran Marni yang kecanduan merokok. Ia terdoktrin dengan adagium merokok itu menelurkan ide-ide brilian. []

      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 3:26 am