Komunitas Mahasiswa sastra inggris UIN SGD BDG .

Login

Lupa password?

Gallery


Link Bersangkutan.

free forum

☺ your comment ☺

Kursus Online CBS Bogor

Latest topics

» Perkenalan
Mon Jul 08, 2013 7:54 pm by Hana Ismi Radliyatin

» Berbagi Cerita
Thu Jun 30, 2011 6:23 pm by zakii

» Hi apa kabar
Thu Jun 30, 2011 5:49 pm by Lia

» Spesialis PUISI_PUISI
Thu Mar 10, 2011 10:14 am by yuga anugrah

» PUISI-PUISI metafisik
Wed Mar 09, 2011 9:57 pm by yuga anugrah

» Copi bozz morphology
Sun May 02, 2010 7:14 am by zakii

» Tim Teater akan tampil lagi
Sat Apr 03, 2010 8:46 am by zakii

» Relax community BSI
Sat Apr 03, 2010 8:43 am by zakii

» Vini Vidi Vici
Sat Apr 03, 2010 8:36 am by zakii


    22 Februari 2009

    Share

    mikoalonso

    Jumlah posting : 35
    Age : 29
    Lokasi : Bandung
    Registration date : 16.04.09

    22 Februari 2009

    Post by mikoalonso on Tue Apr 28, 2009 7:41 pm

    Hari ini minggu. Matahari begitu bangga menyinari bumi ini. Sinarnya seakan memberi senyuman pada desa yang kami naungi. Tangsel. Sekaligus tempat kami mengabdi.

    Saya belum mandi. Anak-anak kecil sudah setia menunggu di teras depan. Sedikit Deva menyapa.
    “rek ka pemancar ayeuna.’’ Tanyanya semangat ditemani gerombolannya. Saya mengangguk mengiyakan. “rada beurangan Va.” Jawabku sederhana. Deva adalah salah satu murid yang kami asuh. Dia anak dari bos tomat. Sesekali Deva mengirim tomat pada kami.

    Jadwal hari ini adalah jalan-jalan bersama anak-anak sambil refreshing. yang dituju yaitu sebuah tempat paling paforit di desa Tangsel ini. Pemancar. Ya, sebuah pemancar stasiun Televisi Republik Indonesia (TVRI) merupakan tempat yang indah. Sebelumnya kelompok kami pernah melihat pemancar dari kejauhan.

    Banyak penduduk sekitar yang sengaja datang ke pemancar. Di luar kota juga tak sedikit yang berkunjung
    “seueur namah ti Bogor a.” kata seorang tukang ojek.

    Pemancar berada di tengah-tengah perkebunan teh. Selain itu terdapat pula tanaman sayuran yang di garap penduduk di sini. Wortel. Kol. Jagung sayur. Pekcay. Semuanya tampak mekar dan siap panen. Lidah saya kaku membayangkan sayuran itu jika seandainya sudah di depan mata dan masak. Hmm... lezaat.

    Jalan-jalan adalah salah satu program yang kami canangkan. Tujuannya memberikan pembelajaran bagi masyarakat sekitar di alam terbuka. Anak-anak begitu menikmati perjalanan ini. Buktinya mereka tampak apresiatif dengan program outbond ini.

    Jarum jam menunjukan sekitar pukul sepuluh. Puluhan anak sudah siap menunggu di posko. Juga ada yang tak sabar mengajak kami berangkat. Mereka gerombolan anak lelaki. Deva cs dengan sigap penuh gaya. Sepatu dan jaket membungkus badan ditambah ransel berisi makanan. Mirip petualangan si bolang. Kaya di TV TV. Deva kelas tiga SD.
    Lets’ go. Posko kami tutup sementara. Kunci dititip ke teh Ai. Kami berbondong-bondong dan perlahan jalan kaki menuju pemancar. Di sekitar, para warga menyapa dengan ramah. Wajah mereka penuh senyum. Terlihat ada yang sedang mencari kutu di teras rumahnya. Biasa, orang-orang kampung suka mencari kutu satu sama lain. Ini dilakukan secara giliran.

    “bade ka pemancar a?” tanyanya.
    “muhun ibu, hayu atuh ngiring.” Jawab saya dibubuhi seyum lembut sebagai tanda ramah.
    “mangga..mangga.” kata mereka dengan membalas senyum sunda.

    Ada hal yang membuat kami sedikit gembira. Rupanya kami dapat tumpangan gratis dari warga. Sebuah truk pengangkut sayuran yang rela mengantar kami ketempat tujuan. Kebetulan truk itu akan mengangkut hasil sayuran yang lokasinya berdekatan dengan pemancar. Truk itu berwarna kuning. Bertuliskan Rizki Sayur di kaca depan. Rizki Sayur adalah salah satu perusahaan penampung sayur di Tangsel. Nama Rizki diambil dari salah satu anaknya. Pak Jujun nama pemiliknya.
    Jalan tetap terjal dan bebatuan. Sesekali terlihat lengkungan jalan yang mulai cekung akibat dilindasi mobil-mobil pengangkut sayuran. Tak jarang mobil bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tak jarang pula anak-anak sedikit teriak dan menjerit pelan dengan kondisi jalan saat mobil bergoyang tepat di lokasi cekung.

    Medan jalan naik dan berbelok. Namun anak-anak begitu riang sambil bernyanyi naik naik ke puncak gunung. Sesekali mereka menyanyikan lagu bajingan yang di lantunkan wali band. Wajah mereka berseri dan polos. Anas dan kru ikut bernyanyi mendampingi mereka. Namun, Alin, Ajeng dan Ani tak hadir. Masing-masing, mereka punya keperluan. Saya duduk di depan dengan supir sambil membakar rokok dan mengepulkan kearah jendela. Sedikit kami mengobrol tentang sayuran.

    Pemandangan sangat indah. Kami berada di dataran tinggi. Semua terlihat tanpa batas. Ini benar-benar anugerah yang harus di syukuri.

    “wah indah nya mang.”
    “komo upami wengi a, harurung ninggali ka kota teh.” Kata supir sambil memperagakan matanya yang menunjuk ke bawah. Kami di puncak. Sebentar lagi sampai di pemancar. Di belakang, anak-anak masih seru, bernyanyi dan berteriak. Di pinggir, berjejer pohon teh. Semua hijau. Mata tak jemu memandang. Udara segar di hidung. Beda sekali dengan udara Bandung. Tapi hari ini petani tak kelihatan.

    “minggu mah libur a.”
    “Ooooh…” saya mengangguk. Namun sesekali terlihat petani yang mengangkut sayuran dengan motor, sambil mengambil arah ke sisi karena jalan cukup untuk satu mobil. Sebagian besar warga Tangsel hidup bertani. Ada juga yang berburuh pada perusahaan sayuran yang ada di desa ini.

    Pemancar sudah sampai. Kami semua turun dari truk. Terlihat para pemuda penduduk sekitar yang kongko-kongko sambil bermain gitar. Ada juga yang sengaja membawa catur ke tempat ini. Di depan pemandangan sangat luas. Masih di penuhi pepohonan teh yang tak menghabiskan mata memandang. Anak-anak berlarian kegirangan.

    Sebuah tower pemancar berdiri tegak menantang langit. Disampingnya terdapat sebuah rumah yang gaduh dengan suara mesin diesel. Berisik. Rumah ini di huni oleh sebuah keluarga. Mereka bertugas sebagai penjaga pemancar ini. Rumah yang cukup luas. Saya dan Agus sempat masuk kedalam rumah itu. Ikut buang air.

    Halamannya lumayan luas. Ada gerbang dan sebuah pos penjaga tua. Sepertinya sudah tidak dipakai lagi. Banyak coretan yang kotor di dinding pos itu. Sementara di tembok rumah terlihat terlihat sebuah keputusan resmi yang di tandatangani menteri penerangan Harmoko dari sebah keramik pada Tahun 1983. Ini berarti pemancar dan rumah ini sudah berdiri 26 tahun.

    Nurul mengajak anak-anak bermain. Membuat suatu lingkaran dan bernyanyi riang. Anak-anak sumringah menjalaninya. Agus mencuri foto. Jepret sana jepret sini memotret anak-anak yang bermain. Rohman duduk di pinggir, di bawah pohon yang rindang.

    Tak lama kami di pemancar. Sekedar melepas penat di posko sambil mengajak cara belajar yang lebih segar. Kami langsung berlari ke kebun teh. Bergaya seunik mungkin. Berfoto bersama. Gaya-gaya narsis terlihat tanpa peduli. Mereka senang.

    Para pemuda sekitar tetap duduk-duduk dan bernyanyi. Kami memutuskan pulang ke Tangsel karena siang sudah menyengat. Anak-anak tak hilang semangat. Mereka berlarian menyusuri kebun teh. Isor berjalan pelan sambil bercakap-cakap dengan segenggam handphonenya. Jalanan turun. Ada sedikit tanah yang licin.
    Di tengah jalan kami bertemu dengan kelompok 006. Rupanya Mereka hendak ke pemancar juga. Sejenak kami ngobrol dengan mereka. Terlihat si ibu pemilik rumah yang didiami kelompok 006 ikut pula. Dan putrinya yang eksotis itu juga hadir saat itu. Namanya Wulan. Katanya dia masih sekolah kelas dua SMK. Temen-temen kelompok 006 pada naksir padannya. Sesekali mereka mengantar dan menjemput Wulan kesekolah.

      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 3:25 am