Komunitas Mahasiswa sastra inggris UIN SGD BDG .

Login

Lupa password?

Gallery


Link Bersangkutan.

free forum

☺ your comment ☺

Kursus Online CBS Bogor

Latest topics

» Perkenalan
Mon Jul 08, 2013 7:54 pm by Hana Ismi Radliyatin

» Berbagi Cerita
Thu Jun 30, 2011 6:23 pm by zakii

» Hi apa kabar
Thu Jun 30, 2011 5:49 pm by Lia

» Spesialis PUISI_PUISI
Thu Mar 10, 2011 10:14 am by yuga anugrah

» PUISI-PUISI metafisik
Wed Mar 09, 2011 9:57 pm by yuga anugrah

» Copi bozz morphology
Sun May 02, 2010 7:14 am by zakii

» Tim Teater akan tampil lagi
Sat Apr 03, 2010 8:46 am by zakii

» Relax community BSI
Sat Apr 03, 2010 8:43 am by zakii

» Vini Vidi Vici
Sat Apr 03, 2010 8:36 am by zakii


    Pasar Kaget UIN

    Share

    mikoalonso

    Jumlah posting : 35
    Age : 29
    Lokasi : Bandung
    Registration date : 16.04.09

    Pasar Kaget UIN

    Post by mikoalonso on Tue Apr 28, 2009 7:25 pm

    Hari ini kampus kaya pasar saja. Banyak pedagang menggelar barang-barangnya. Besok hari wisuda. Mahasiswa yang beres kuliah pasti akan senang dan gembira menunggu hari bersejarah itu. Ini tak seberapa, menuju malam, kampus tak akan kelihatan. Benar-benar akan menjadi pasar kaget. Tak percaya? Coba besok kita lihat saja. Sekarang 13 Maret 2009.
    Cuaca panas sekali sehabis jum’atan. Agus Kosasih teman KKNku datang ke Suaka. Seperti biasa ia berpenampilan serba hitam. Topi. Kaos bertuliskan sebuah music rock cadas, Kiss dan tak lupa kalung berlogo Israel menggantung di tengah lehernya.
    Aku dan Nopi tengah berbincang di ruang kerja Suaka. Agus duduk dan larut dalam obrolan kami. Ia tak banyak bicara cukup mendengarkan. Sesekali manggut-manggut.
    Ada yang kurang ditengah obrolan siang itu. Identitas sebagai lelaki sejati belum tampak. Dengan sedikit sindiran aku sedikit mengeluarkan batuk kecil bernada lelucon “rohokoo”. Sontak kami bertiga tersenyum geli sambil merogoh saku masing-masing.
    “ieu aya goceng (ini ada lima ribu).” Kata agus mengawali.
    “yeuh tambahan (nih tambahin).” Aku menimpali.
    Uang tercecer 9000 rupiah diatas karpet merah yang sudah beberapa tahun belum dicuci. Nopi tak menyianyiakan. Segera ia menyerobot duit yang bertebaran itu.
    “belikan apa nih?”
    “roko apa aja deh. Mau super mau kretek. Bebas.” Kata agus simple.
    “beli kopinya Pi.” Aku menambahkan.
    Ruangan Suaka terlihat berantakan setelah kurang lebih satu bulan aku meninggalkan kampus menuju Sukabumi. Ada tugas akademis yang harus diselesaikan. Kuliah Kerja Nyata yang akrab di sebut KKN. Tapi dalam hati aku tidak menganggapnya sebagai KKN tapi sebatas liburan yang menyenangkan. Rasanya tak mau berpisah dengan Sukabumi, khususnya sebuah dusun yang cantik dan erotis. Dusun Tangsel. Daerah penghasil sayuran yang produktif.
    Kopiko brown coffee berwarna coklat terseduh dalam sebuah cangkir berwarna pink. Asapnya mengepul keatas langit-langit dan merayap terbang lambat menuju jendela. Aromanya harum. Aku, Nopi dan Agus mulai membakar rokok. Perbincangan dilanjutkan. Agus tetap diam dan manggut-manggut.
    Di luar terdengar suara perempuan mengucapkan salam. Napasnya berirama kencang naik turun. Nora Melinda Hardi masuk dalam posisi kami. Ia menggenggam sebuah kamera milik Suaka. Katanya ia tak jadi liputan karena tamu dari University Of California tak jadi datang. Wajahnya terlihat sedikit kecewa. Kamera diberikan padaku.
    Nora adalah gadis asal Palembang, Sumatera Barat. Perawakannya tinggi sekitar 150 cm. wajahnya lucu dan menggemaskan. Bicaranya kadang membuat orang ingin mencubitnya. Sesekali ia suka mengeluarkan suara-suara yang gak jelas dari mulutnya. Mirip suara binatang yang gak ada dalam habitatnya. “ngeong..ngeong..ngeong.”
    Nora tak lama di Suaka. Ia bergegas keluar ruangan. Kayaknya pergi ke Bank BRI. Kami bertiga sempat bercerita tentang perjalanan pulang dari KKN. Terdapat peristiwa yang cukup mendebarkan hati kami. Masing-masing dari teman kami mengalami kejadian saat pulang ke Bandung. Agus ketua KKN aku sempat menabrak seorang perawat rumah sakit al Islam yang hendak nyebrang. Sedangkan teman Nopi terpaksa dilarikan kerumah sakit akibat tabrakan mobil. Pengemudi, Gigi dan rahangnya retak. Namanya Bobi, anak Psikologi. Untung tidak wafat seperti yang di tabraknya.
    Tiba-tiba Nora kembali ke Suaka. Nafasnya belum stabil. Sesekali ia menatap wajah Agus. Aku yakin dia tidak mengenalnya. Nora menanyakan jadwal buka kantor pos dan mengajakku untuk mengantarnya sekalian ngambil laptop yang ia janjikan kemarin. Tanpa basa-basi aku menerima ajakannya.
    “Pi pinjem motor bentar mu ambil laptop.” Kataku.
    Nopi terlihat ngantuk tapi rela memberikan kuncinya padaku. Agus masih saja diam dan mengangguk saat aku suruh “tunggu sebentar.”
    Motor Legenda aku nyalakan. Di sekitar kampus orang-orang hilir mudik memasang persiapan dagangannya. Remnya agak blong dan membuat Nora ketakutan saat aku menyusuri jalan Cipadung. Perjalanan dimulai.
    ****

      Waktu sekarang Sun Dec 11, 2016 3:26 am